• August 7, 2020

Budayakan Berwakaf Selain Tanah dan Bangunan

 Budayakan Berwakaf Selain Tanah dan Bangunan

Cici Sartika.

Artikel Ilmiah*)

 BERBICARA tentang wakaf adalah pembicaraan yang membawa kita kepada keridhaan Allah SWT, terhadap harta benda yang kita miliki didunia ini. Tata cara pelaksanan wakaf telah dimulai sejak zaman baginda Nabi Muhammad SAW, sampai sekarang, mulai dari; cara yang klasik, sampai cara yang diatur sedemikian rupa secara administratif oleh pemerintah sebuah negara. Oleh karena amalan wakaf ini adalah amalan yang sangat gemar dilakukan umat islam dikarenakan ibadah yang ditunggu Allah SWT dan telah diatur juga oleh negara.

Menurut hukum Islam, benda yang diwakafkan (al-mauquf) terbagi menjadi dua yaitu; wakaf berupa benda bergerak dan tidak bergerak. Problematika objek wakaf tersebut mempengaruhi realisasi tindakan wakaf atas dua kategorisasi tersebut.

Dalam undang-undang Nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf bagian keenam harta benda wakaf yaitu, terdapat pada pasal 16 ayat (3) dinyatakan bahwa benda bergerak yang bisa diwakafkan adalah harta benda yang tidak bisa habis karena konsumsi.

Dalam UU itu, ditegaskan pembagian bentuk, adalah benda wakaf baik bergerak dan tidak bergerak. Seperti yang saya kutip dibawah ini dalam pasal 16 ayat (3) huruf b adalah benda yang tidak bisa habis karena dikonsumsi, meliputi: uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, hak sewa dan benda bergerak lain sesuai dengan ketentuan syariah dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

Penjelasan rinci dari dosen saya Bapak Hebby Rahmatul Utamy dalam mata kuliah Zakat dan Wakaf dalam Hukum Positif Indonesia, beliau mengatakan, ”mengenai wakaf uang, objeknya adalah uang, sebenarnya bukan uangnya yang dikatakan wakaf melainkan peruntukkan uang tersebutlah yang dimaksudkan berwakaf”.

Simulasinya:

Wakaf tidak bergerak yang dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3) ini adalah sebagai contoh: sebuah yayasan mengumpulkan donasi wakaf untuk biaya pendirian rumah sakit (tanah dan bangunan) kemudian pewakaf menyerahkan uang 10 jt kepada nazir, itu yang disebut wakaf melalui uang sebagaimana yang dimaksudkan pasal tersebut diatas.

 

Beliau pun melanjut, bahwa yang dikatakan logam mulia adalah logam yang tahan terhadap korosi maupun oksidasi. Logam mulia bisa digunakan sebagai perhiasan dan mata uang (emas, perak), bahan tahan karat seperti lapisan perak, ataupun katalis (misalnya platina). Dalam konteks ini, logam mulia memiliki dampak yang besar dalam lalu lintas ekonomi.

 

Sementara itu, soal surat beharga adalah surat yang digunakan sebagai pengganti uang yang selama ini telah digunakan sebagai alat tukar dalam perdagangan khususnya oleh kalangan pembisnis atau para pengusaha. Wakaf surat beharga ini akan dicatat nilai bukunya pada tanggal penyerahan. Pengelolaan wakaf surat beharga yang berbentuk saham dan obligasi terbuka ditinjukkan untuk memaksimalkan perolehan deviden (bagi hasil).

Berwakaf kendaraan adalah bentuk pemberian kita kepada nazir berupa kendaraan yang peruntukannya untuk kemaslahatan umat. Sebagai contoh: mewakafkan sebuah mobil kepada sebuah yayasan yang peruntukkannya sebagai ambulance atau mobil operasional.

Kemudian, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) menurut sebagian ulama adalah diperkenankan, baik yang diwakafkan itu HKI tersebut halal dan legal seta selagi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. Sebagai contoh: HKI dapat berupa merk dagang, merk hak cipta lagu atau film, hak desain industri, hak paten dan lain – lainnya.

Menyoal HKI, berdasarkan keputusan otoritas fatwa nasional dan internasional, diantaranya keputusan standar Syariah AAOFI No.42 tentang hak-hak finansial yang mengkategorikan HKI hak yang bernilai dan boleh dimiliki atau dipindak kepemilikan.

Juga, soal hak sewa adalah hak yang memberi wewenang untuk menggunakan tanah milik orang lain dengan membayar kepada pemiliknya sejumlah uang sebagai sewanya. Dalam praktek wakaf bergerak yang dikatakan hak sewa adalah suatu benda yang disewakan atau diambil manfaatnya kepada orang lain, dengan bayaran sebagai bayaran atau hasil dari sewa nanti akan dikembangkan untuk wakaf yang lebih produktif dan membantu masyarakat.

Dengan perkembangan zaman sekarang yang semakin cepat, ada kemungkinan benda wakaf bergerak mengalami perkembangan bentuk dan pengeloannya dari masa ke masa. Tradisi mewakafkan benda bergerak di Indonesia belum populer dibandingkan dengan wakaf tidak bergerak yang berupa tangah dan bangunan. Wakaf benda tidak bergerak ini lebih ke produktifitas dan pengambilan kemanfaatan.

Namun, masyarakat memang lebih terbiasa dengan wakaf benda tidak bergerak dibandingkan wakaf bergerak. Karena lebih mudah dipahami dibandingkan wakaf bergerak.

Dengan demikian, keberadaan wakaf belum memberikan pengaruh besar, sebab masih cenderugn bersifat konsumtif semata. Akan tetapi, jika masyarakat mau mempelajari dan mempraktekkan wakaf benda bergerak, dipastikan peningkatan ekonomi umat akan cepat mengalami pertumbuhan.

“Mari kita budayakan wakaf bergerak, karena tak selamanya berwakaf itu menggunakan tanah dan bangunan”.

-0-

*). Oleh: CICI SARTIKA

Mahasiswa Jurusan Manajemen Zakat dan Wakaf – (MAZAWA) IAIN Batusangkar

 

Disclaimer: Isi artikel, merupakan tanggungjawab dari penulis.
Berbagi Yuk!