PADANG – Tulisan ini saya buat, bukan karena beberapa tahun yang lalu, saya pernah menjabat Plt. Ketua Partai Gerindra di salah satu DPC (Dewan Pimpinan Cabang) di Sumatera Barat. Karena, disaat Bapak Nasrul Abit (NA) menjabat Ketua DPD (Dewan Perwakilan Daerah) Partai Gerindra Provinsi Sumatera Barat sebelum Kakanda Andre Rosiade, saya pun langsung tergantikan selaku Ketua DPC.

Beberapa waktu terakhir ini, saya mengamati agak serius pergerakan politik Bapak Nasrul Abit, yang akrab disapa NA tersebut. Suatu ketika, disaat pendemi di Kota Padang belum begitu signifikan dan belum terdapat adanya positif Covid 19/ Novel Coronavirus, saya pernah satu masjid dengan beliau menunaikan Shalat Jum’at.

NA hadir pada waktu itu memberikan arahan, betapa pentingnya social distancing, untuk mencegah penyebaran virus Corona. Kebetulan pula, Sekolah Menengah Atas Kimia Padang (SMAKPA) sedang melakukan sosialisasi dan penyemprotan handsanitizer kepada para jamaah Jum’at Mesjid Raya Sumatera Barat, yang mana termasuk didalamnya saya.

Tulisan ini jelas, yakni soal Pendemi Covid-19 dan kepedulian NA soal penanganannya. Karena, suatu hal yang lazim, jika seorang Wakil Gubernur bereaksi protektif, saat terjadinya sebuah wabah di daerah yang Ia pimpin.

Saya perhatikan dengan seksama, NA begitu aktif turun kelapangan. Sementara, Ia tampaknya sangat baik sekali dalam menjaga kesehatannya agar tetap prima. Dengan usianya yang cukup tinggi, tentu kondisi yang rentan bagi NA, terpapar oleh Covid-19. Tetapi NA tetap kuat dan bertahan, hingga saat ini.

Sebagai Wakil Gubernur (Wagub) tentu tidak banyak yang bisa dilakukan NA. Sebab, Gubernur aktif Irwan Prayitno (IP) masih sehat dan segar bugar serta selalu berpantun dibanyak pidato resminya itu. Walaupun dalam Covid-19, pantunnya pun sudah mulai berkurang.

Sementara itu, saya mengamati dibeberapa pemberitaan, NA tetap berusaha maksimal. Ia sepertinya ingin menunjukkan rasa empatinya yang tinggi serta mendorong masyarakat agar tetap siaga menghadapi pendemi yang cukup luar biasa penularan dan dampaknya itu.

Saya pun tidak ingin berpanjang – panjang, intinya saya melihat dari awal, NA ingin meyakinkan masyarakat, bahwa dirinya pantas memimpin Sumbar kedepannya, estafet dari IP.

Kini, Indra Catri sang Bupati Agam, sudah didapuk bakal mendampingi NA selaku Bakal Calon (Balon) Wakil Gubernur dan NA selaku Balon Gubernurnya.

Baru jadi Wagub saja, NA tidak mau diukur oleh usianya dan keterbatasan wewenang. Ia berusaha memberikan yang terbaik sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat dan bisa saja Ia dianggap sebagai Gubernurnya Sumatera Barat, oleh para fans club/ simpatisannya.

Tentu, jika Ia jadi Gubenur, Ia akan berusaha menunjukkan eksistensinya di kancah nasional. Motivasi tersebut, bisa saya setarakan dengan antusias saat ini di DKI Jakarta, Anies Baswedan sang Gubernur yang dielukan sebagai Gubernur rasa Presiden.

Dalam kacamata politik setengah awam, saya menilai hanya tinggal selangkah lagi, NA untuk benar – benar nyata jadi Gubernur. Karena Ia pandai betul memilih pasangan dari Wilayah Daerah Pemilihan yang berbeda, yakni Sumbar 1 (termasuk Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Padang) dikombinasikan dengan Wilayah Sumbar 2 (Kabupaten Agam dan sekitarnya).

Semoga penilaian saya ini tidak salah. Apabila terdapat kesalahan, silahkan para pembaca budiman ulas pula lewat artikel pembaca sekalian. Atau hubungi saya di Nomor: 0282386452204. (Rico AU)

Berbagi Yuk!