• August 9, 2020

Prof. Salmadanis: TINGKATAN WARA’ (Menghadapi Covid 19 Dengan Wara’)

 Prof. Salmadanis: TINGKATAN WARA’ (Menghadapi Covid 19 Dengan Wara’)

Prof. Salmadanis

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim, di mana saja berada. Kajian Islam selanjutnya adalah WARA’.

“Waspadalah dunia itu penuh tipuan”.

UNTUK itu, mari kita bersikap dan bersifat wara’ atas segala ragam dan model kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT, kepada kita dalam berbagai situasi dan kondisi apapun; agar nafsu, akal dan hati ini tidak kemana-mana tapi ada bersama Allah SWT dalam ketaatan. Yakinlah dunia itu tipuan…

 

TINGKATAN WARA’

(Wara’ Bag. 3)

Dalam ilmu keislaman ulama membagi tingkatan wara’, yaitu sebagai berikut :

1. Menjauhi keburukan karena hendak menjaga diri, memperbanyak kebaikan dan menjaga iman. Menjaga diri artinya memelihara dan melindunginya dari hal-hal yang bisa mengotori dan menodainya di sisi Allah SWT, para malaikat, hamba-hamba-Nya yang beriman dan semua makhluk.

Karena, siapa yang dirinya mulia di sisi Allah SWT, maka Dia akan menjaga, melindungi, mensucikan, meniggikan dan meletakkannya di tempat yang paling tinggi, berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesempurnaan.

Sedangkan siapa yang dirinya hina di sisi Allah, maka Dia melemparkannya ke dalam kehinaan, tidak menjaganya dari keburukan dan melepaskan dirinya.

Batasan minimal menjauhi keburukan adalah menjaga diri. Memperbanyak kebaikan dapat dilakukan dengan dua cara: Pertama, memperbanyak kesempatan dalam melaksanakan kebaikan. Jika seorang hamba melakukan keburukan, berarti kesempatan yang telah dipersiapkan untuk kebaikan menjadi berkurang.

Kedua, memperbanyak kebaikan yang dilakukan agar tidak berkurang, sebagaimana telah dikupas dalam masalah taubat, bahwa keburukan bisa menggugurkan kebaikan, entah secara keseluruhan ataukah sekedar terkurangi. Minimal akan melemahkan posisi kebaikan itu.

Kaitannya dengan menjaga iman, menurut  ulama Ahlus-Sunnah waljamaah, iman itu bisa bertambah karena ketaatan dan bisa berkurang karena kedurhakaan. Pendapat ini juga dikisahkan dari Asy-Syafi’y dan lain-lainnya dari kalangan shahabat dan tabi’in.

Peranan kedurhakaan yang melemahkan iman ini merupakan perkara yang sudah dimaklumi dan dibuktikan kenyataan. Sebab sebagaimana yang telah disebutkan di dalam hadits, bahwa jika hamba melakukan dosa, maka di dalam hatinya ditorehkan satu titik hitam.

Maka, jika dia memohon ampunan, maka hatinya menjadi mengkilap kembali. Jika dia kembali melakukan dosa, maka di dalam hatinya ditorehkan titik hitam lainnya. Keburukan membuat hati menjadi hitam dan mema-damkan cahayanya.

 

2. Menjaga hukum dalam perkara-perkara yang mubah, mengekalkan, melepaskan diri dari kehinaan dan menjaga diri agar tidak melampaui batasan hukum. Orang yang naik dari derajat pertama dari wara’ lalu beralih ke derajat kedua ini, meninggalkan sekian banyak hal-hal yang mubah, karena takut hatinya akan terkotori dan cahayanya padam.

Sebab, memang banyak hal-hal yang mubah dapat mengotori kebersihan hati, mengurangi gemerlapnya dan memadamkan cahayanya. Suatu kali Syaikhul-Islam berkata kepadaku sehubungan dengan hal yang mubah, “Ini dapat menghilangkan derajat yang tinggi, sekalipun meninggalkannya bukan merupakan syarat untuk mendapatkan ke-selamatan”.

Orang yang memiliki ma’rifat lebih banyak meninggalkan hal-hal yang mubah, karena untuk mengekalkan penjagaan hati, apalagi jika yang mubah itu merupakan sekat antara yang halal dan yang haram.

 

3. Menjauhi segala sesuatu yang mengajak kepada perceraian, bergantung kepada perpisahan dan yang menghalangi kebersamaan secara total. Perbedaan antara perceraian dan bergantung kepada perpisahan seperti perbedaan antara sebab dan akibat, penafian dan penetapan. Siapa yang bercerai, maka tidak ada kesempatan baginya untuk bergantung kepada selain tuntutannya.

Siapa yang tidak menjadikan Allah SWT sebagai kehendaknya, berarti dia menghendaki selain-Nya. Siapa yang tidak menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan, maka dia akan menyembah selain-Nya.

Siapa yang amalnya bukan karena Allah, berarti amalnya karena selain Allah. Perasaan takut membuahkan wara’, permohonan pertolongan dan harapan yang tidak muluk-muluk.

Kekuatan iman kepada perjumpa-an dengan Allah SWT, membuahkan zuhud. Ma’rifat membuahkan cinta, takut dan harapan. Rasa cukup membuahkan keridhaan.

 

Ikhlas dan kejujuran saling membuahkan. Ma’rifat membuahkan akhlak. Pikiran membuahkan tekad.

Mengetahui nafsu dan membencinya membuahkan rasa malu kepada Allah, menganggap banyak karunia-Nya dan menganggap sedikit ketaatan kepada-Nya. Memperhatikan secara benar ayat-ayat yang didengar dan disaksikan membuahkan pengetahuan yang benar. Penopang semua ini ada dua macam: Pertama, memindahkan hati dari kampung dunia ke kampung akhirat.

Kedua, mendalami, menyimak dan memahami makna-makna Al-Qur’an serta sebab-sebab diturunkannya, lalu engkau mengambil dari ayat-ayatnya untuk mengobati penyakit kronis di dalam hati yang membawa pengaruh kepada perilaku keseharian.

*****

Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin, hadapilah kehidupan ini dengan wara’lah terhadap kehidupan ini. Yang namanya dunia tetap saja menggoda dan tipuan semata, karena antara yang menipu dengan yang ditipu tipis sekali.

Oleh: Prof. DR. H. Salmadanis, MA

(Pimpinan Pusat Dakwah, Studi Islam dan Majlis Ta’lim Sumatera Barat)

 

Berbagi Yuk!

Related post