• August 9, 2020

Prof. Salmadanis: Wara’ dan Penerapannya (Menghadapi Covid 19 Dengan Wara’)

 Prof. Salmadanis: Wara’ dan Penerapannya  (Menghadapi Covid 19 Dengan Wara’)

Prof. DR. Salmadanis. (Design: RPG Networks)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim, di mana saja berada. Kajian Islam selanjutnya adalah WARA’.

“Waspadalah dunia itu penuh tipuan”.

 

UNTUK itu, mari kita bersikap dan bersifat wara’ atas segala ragam dan model kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT, kepada kita dalam berbagai situasi dan kondisi apapun; agar nafsu, akal dan hati ini tidak kemana-mana tapi ada bersama Allah SWT dalam ketaatan. Yakinlah dunia itu tipuan…

WARA’ DAN PENERAPANNYA

(Wara’ Bag. 4)

Wara’ merupakan jalan untuk mengenal Rabb dan menempatkan-Nya sebagaimana mestinya, mengagungkan larangan dan syi’ar-syi’ar-Nya, akan melakukan pengagungan sampai kepada sikap hati-hati dari setiap perkara yang bisa menyebabkan kemurkaan Allah  di dunia maupun di akhirat.

Maka wara’ di sisi-Nya termasuk jenis takut yang membuat seseorang meninggalkan banyak hal yang dibolehkan, jika hal itu menjadi samar atasnya bersama yang halal agar tidak merugikan agamanya.

Di antara tanda yang mendasar bagi orang-orang yang wara’ adalah kehati-hatian mereka yang luar biasa dari sesuatu yang haram, serta tidak adanya keberanian mereka untuk maju kepada sesuatu yang bisa membawa kepada yang haram.

Dalam hal itu, Rasulullah  bersabda:

إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَيَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ, فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ.

Artinya:

“Sesungguhnya yang halal dan yang haram itu jelas. Dan di antara keduanya banyak hal-hal syubhat yang kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga diri dari hal-hal yang syubhat maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya.

 Dan barangsiapa yang bertindak berani di tempat-tempat yang diragukan, niscaya bertambahlah keberaniannya terhadap sesuatu yang lebih berat:

Dan sesungguhnya orang yang bercampur keraguan, hampir-hampir ia berani (kepada yang diharamkan”.

 

Maka wara’ yang sebenarnya adalah seperti yang digambarkan oleh Yunus bin ‘Ubaid rahimahullah: yaitu keluar dari semua yang syubhat dan muhasabah (introfeksi) terhadap diri sendiri di setiap kedipan mata.

Perjalanan kejatuhan berawal dengan satu kali terpeleset, serta semangat terhadap akhiratnya menjadikan di antaranya dan terpelesetlah tameng yang menutupi dan menjaganya.

Syaikh al-Qubbari  rahimahullah, mengisyaratkan kepada pengertian ini dengan katanya: “Yang makruh adalah dinding penghalang di antara hamba dan sesuatu yang haram. Maka barangsiapa yang banyak melakukan yang makruh berarti ia menuju kepada yang haram. Dan yang mubah merupakan dinding pemisah di antaranya dan yang dimakruhkan. Maka barangsiapa yang memperbanyak yang mubah niscaya ia menuju kepada yang makruh”.

Ibnu Hajar rahimahullah  memandang baik perkataannya ini dan ia menambahkan: “Sesungguhnya yang halal, sekiranya dikhawatirkan bahwa melakukannya secara mutlak bisa menyeret kepada yang makruh atau haram, semestinya meninggalkannya, seperti memperbanyak yang halal. Sesungguhnya hal itu membutuhkan banyak kerja yang dapat menjatuhkan diri seseorang dalam mengambil yang bukan haknya atau membawa kepada penolakan jiwa. Dan sekurang-kurangnya adalah tersibukkan dari ibadah (maksudnya, tidak ada waktu untuk beribadah). Hal ini sudah diketahui berdasarkan pengalaman dan disaksikan dengan pandangan mata”.

Ciri mendasar pada seseorang yang bersifat wara’ adalah kemampuannya meninggalkan sesuatu yang hanya semata-mata ada keraguan atau syubhat, seperti yang dikatakan oleh al-Khaththabi  rahimahullah: “Semua yang engkau merasa ragu padanya, maka sifat wara’ adalah menjauhinya”.

Imam Al – Bukhari rahimahullah  mengutip perkataan Hasan bin Abu Sinan rahimahullah: tidak ada sesuatu yang lebih mudah dari pada sifat wara’“Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu”.

Rasulullah SAW juga bersabda:

البِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَاْلإِثْمُ مَالَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ –وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُوْنَ

Artinya:

“Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan hati tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang memberikan berbagai komentar kepadamu”.

 

Hal itu diperkuat lagi oleh atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir rahimahullah secara mursal:

مَا أَنْكَرَهُ قَلْبُكَ فَدَعْهُ

“Sesuatu yang diingkari hatimu, maka tinggalkanlah”.

 

Orang-orang yang memiliki kedudukan yang tinggi selalu bersikap preventif untuk diri mereka sendiri dengan berhati-hati dari sebagian yang halal yang bisa membawa kepada sesuatu yang makruh atau haram.

Diriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:

لاَيَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ حَتَّى يَدَعَ مَالاَبَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

Artinya:

“Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat taqwa sehingga ia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang”.

 

Hal ini diperkuat oleh hadits yang lain:

اجْعَلُوْا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الْحَرَامِ سِتْرًا مِنَ الْحَلاَلِ…

“Jadikanlah pendinding yang halal di antara kamu dan yang haram …”.

 

Ibnu al-Qayyim  rahimahullah menceritakan pengalamannya bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah: Syaikhul Islam berkata kepadaku pada suatu hari tentang sesuatu yang mubah (boleh): “Ini menghalangi kedudukan yang tinggi, sekalipun meninggalkannya bukanlah syarat dalam keselamatan”.

Sebagaimana wara’ meliputi gambaran-gambaran usaha dan hubungan mu’amalah, maka sesungguhnya ia juga mencakup lisan. Sesungguhnya engkau menemukan kebanyakan orang bersegera memberi fatwa, sedangkan mereka tidak mengetahui. Karena itulah, ad-Darimi  rahimahullah membuat satu bab yang berbunyi: Menahan diri (bersikap wara’) dari menjawab sesuatu yang tidak ada dalam al-Qur`an dan sunnah.

Ishaq bin Khalaf  rahimahullah memandang bahwa sikap wara’` dalam ucapan lebih utama daripada sikap wara’` dalam hubungan yang berkaitan dengan harta, di mana dia berkata: “Wara’ dalam tuturan kata lebih utama daripada emas dan perak…”.

Di antara renungan Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam hadits-hadits Rasulullah SAW, dia menyatakan bahwa sesungguhnya: Rasulullah  mengumpulkan semua sifat wara’ dalam satu kata, maka beliau bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالاَيَعْنِيْهِ

Artinya:

“Termasuk tanda baik keislaman seseorang, ia meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya”.

 

Dan di antara hasil yang nampak bagi sikap wara’ bahwa ia memelihara pelakunya dari terjerumus (dalam hal yang dilarang), karena itulah engkau menemukan:

Barangsiapa yang melakukan yang dilarang, ia menjadi gelap hati karena tidak ada cahaya wara’, maka ia terjerumus dalam hal yang haram, kendati ia tidak memilih untuk terjerumus padanya.

Memang mudah menyebutnya, akan tetapi jika tidak dilaksanakan dalam kehidupan, maka tidak hati-hati (tidak wara’ itu) akan menghapus segala kebaikan yang telah ada.

Renungkan !!!!!

****

Oleh: Prof. DR. H. Salmadanis, MA

(Pimpinan Pusat Dakwah, Studi Islam dan Majlis Ta’lim Sumatera Barat)

Berbagi Yuk!

Related post