• August 7, 2020

Prof. Salmadanis: Wara’ Sebagai Standarisasi dan Maqam (Menghadapi Covid 19 Dengan Wara’)

 Prof. Salmadanis: Wara’ Sebagai Standarisasi dan Maqam (Menghadapi Covid 19 Dengan Wara’)

Prof. DR. H. Salmadanis,MA. (Design: RPG Networks)

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim, di mana saja berada. Kajian Islam selanjutnya adalah WARA’.

“Waspadalah dunia itu penuh tipuan”.

 

UNTUK itu, mari kita bersikap dan bersifat wara’ atas segala ragam dan model kehidupan yang diberikan oleh Allah SWT, kepada kita dalam berbagai situasi dan kondisi apapun; agar nafsu, akal dan hati ini tidak kemana-mana tapi ada bersama Allah SWT dalam ketaatan. Yakinlah dunia itu tipuan…

 WARA’ SEBAGAI STANDARISASI DAN MAQAM

(Wara’ Bagian 6)

Wara’ disebut juga wira’i adalah salah satu maqam yang mulia dalam amaliyah tasawuf.  Rasûlullah SAW bersabda:

“tiang agamamu adalah wira’I”.

Wira’i itu memiliki tiga penampakan dalam diri seseorang, yaitu :

1. Tingkatan subhat sebagai berkut:

  • Orang yang menghindari  syubhat, yaitu sesuatu antara halal dan haram;
  • Orang yang menghindari sesuatu yang menghentikan hati dari berdzikir kepada Allâh SWT;
  • Orang-orang yang terhindar dari sesuatu yang menyibukkan hatinya dari  berdzikir kepada Allah SWT (al-Luma‘ fî Târîkh al-Tasawuf al-Islâmî).

Orang-orang yang wira’i juga memiliki perbedaan berdasarkan tingkatannya;

وَالْوَرَعُ وَهُوَ عَلَى ثَلاَثَةِ أَقْسَامٍ: وَرَعُ اْلعَامِّ وَهُوَ أَنْ لاَيَتَكَّلَمَ إِلاَّ بِاللهِ سَاخِطًا أَوْ رَاضِيًا، وَوَرَعُ الْخَاصِّ وَهُوَ أَنْ يَحْفَظَ كُلَّ جَارِحَةٍ عَنْ سُخْطِ اللهِ، وَوَرَعُ اْلأَخَصِّ وَهُوَ أَنْ يَكُوْنَ

جَمِيْعُ شُغْلِهِ يَرْضَى اللهُ بِهِ، (جامع الأصول في الأولياء، ص: 76).

Wara‘ ada tiga macam; Wara‘-nya orang ‘awâm yaitu tidak berbicara kecuali dengan Allâh SWT, baik dalam keadaan senang atau tidak. Wara‘-nya orang khâsh adalah dengan menjaga semua anggota tubuh dari kemurkaan Allâh SWT, dan Wara‘-nya orang akhâsh yaitu dengan (menjaga) semua kesibukannya agar diridhai oleh Allâh SWT. (Jâmi’ al-Ushûl fi al-Auliyâ’).

 

2. Tiga tanda khauf (takut) adalah;

  • Wara‘ dari barang syubhat dengan cara memperhatikan ancaman;
  • Menjaga lisan dengan memperhatikan keagungan;
  • Mengobati kesedihan yang berat menjadi lebih ringan daripada menghadapi murka dzat yang sabar lagi pemaaf (al-Halîm).

 

3. Tiga tanda amal ikhlas;

  • Pujian dan hinaan dari manusia terasa sama;
  • Melupakan pandangan manusia tentang amal karena memandang kepada Allâh SWT;
  • Menetapkan pahala amal di akhirat dengan pengampunan Allah dan menetapkannya di dunia dengan pujian yang baik.

 

4. Tiga tanda kesempurnaan mal adalah:

  • Meninggalkan perjalanan keliling negara-negara;
  • Menyedikitkan atau meminimalkan kegembiraan karena mendapatkan Kenikmatan seperti menghadapi cobaan;
  • Ketulusan hati pada semua keadaan baik Rahasia maupun terlihat.

 

5. Tiga tanda ‘amal yaqin adalah:

  • Meminimalkan perbedaan dengan manusia dalam pergaulan;
  • Tidak menghiraukan pujian manusia;
  • Menghilangkan hinaan manusia.

 

6. Tiga tanda tawakkal:

  • Melepaskan hubungan-hubungan dengan manusia;
  • Tidak mencari simpati dalam kesempatan untuk menaikkan kedudukan;
  • Jujur dalam mu‘amalah (pekerjaan) dengan sesama mahluk.

 

7. Tiga tanda kesabaran adalah:

  • Menjauhi pergaulan dengan keras;
  • Berdiam diri pada saat terkena cobaan;
  • Menampakkan kekayaan dalam kehidupan padahal berada dalam jeratan kefakiran.

 

8. Tiga tanda hikmah adalah: 

  • Melepaskan jiwa dari keterikatan dengan manusia;
  • Menasihati manusia menurut kadar akalnya sehingga mereka mampu melakukan nasihat tersebut;
  • Menempat seseorang sesuai dgn pahamnya.

 

9. Tiga tanda zuhud adalah:

  • Angan-angan yang pendek;
  • Cinta kefakiran;
  • Merasa cukup dengan kesabaran.

 

10. Tiga tanda ahli ibadah adalah:

  • Mencintai waktu malam untuk digunakan tahajjud, berdzikir dan berkhalwat;
  • Tidak suka dengan datangnya tubuh karena terlihat manusia;
  • Lupa dengan amal-amal yang baik karena takut timbul fitnah.

 

11. Tiga tanda tawaddhu‘:

  • Mengecilkan diri karena mengetahui celah pada dirinya;
  • Menghormati manusia karna menghormati ke-Esaan Allâh SWT;
  • Menerima kebenaran dan nasihat dari orang lain.

 

12. Tiga tanda dermawan adalah:

  • Memberikan sesuatu padahal dirinya membutuhkan;
  • Takut merasa cukup karena pemberiannya tidak diikuti orang lain;
  • Takut jiwanya meRasa cukup karena berhasil memasukkan kebahagiaan kepada manusia.

 

13. Tiga tanda budi pekerti yang baik adalah:

  • Meminimalkan perbedaan terhadap manusia yang bergaul;
  • Memperbaiki ahlak yang ditolak (jelek);
  • Menetapkan tercegahnya nafsu yang selalu mencela terhadap orang-orang yang berselisih dengannya tanpa mengetahui aib mereka.

 

14. Tiga tanda belas kasih Rasul bagi makhluk; beliau tidak menyebutkan yang pertama, melainkan yang kedua dan yang ketiga, yaitu:

  • Menangisi (sedih dalam hati) terhadap anak yatim dan orang-orang miskin; dan
  • Menghilangkan hinaan terhadap musibah orang muslim dan memberikan nasihat kepada manusia.

****

Oleh: Prof. DR. H. Salmadanis, MA

(Pimpinan Pusat Dakwah, Studi Islam dan Majlis Ta'lim Sumatera Barat)
Berbagi Yuk!

Related post