• August 7, 2020

Profesor Salmadanis: Cara Menghadapi Wabah Covid 19 Dengan Tawakal

 Profesor Salmadanis: Cara Menghadapi Wabah Covid 19 Dengan Tawakal

Prof.DR.H.Salmadanis,MA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim di mana saja berada. Dalam beberapa tulisan kedepan, kita akan memaparkan Kajian Islam terkait dengan  ‘Tawakkal’.

Bagaimana pula metodologi tawakkal mampu Menghadapi wabah Covid-19, yang saat ini  sedang melanda berbagai aspek kehidupan manusia dalam berbagai lini, seperti kehidupan sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, bahkan menjalan ajaran agamapun secara normal dan sempurna tidak lagi menurut semestinya.

Jika para dokter, para medis melalui ilmu kesehatan, para birokrasi mulai dari Presiden sampai kepada Walinagari dan desa, para Menteri, POLRI, ABRI, para Akademisi, para Dermawan, lembaga keagamaan dan kemasyarakatan dan para relawan telah turun mengabdikan jasa dan usahanya kepada masyarakat.

Maka, kami dari bidang keilmuan  Islam ikut bersama-sama mereka dalam membimbing masyarakat saat mengadapi wabah Covid-19 ini. Supaya ‘Akidah’  tetap istiqamah dan utuh.

Untuk itu mari kita ikuti dengan baik, agar jiwa dan akal kita tenang menerima ketentuan Qudrat dan Iradahnya Allah SWT.

 

T A W A K A L

(Bagian 1)

 

Pengertian Tawakkal   

Allah Subhanahu wa-Ta’ala, selalu menyandingkan lafazd tawakal dengan orang-orang yang beriman. Ini menjadi pertanda jika tawakal adalah hal yang sangat diagungkan dan tidak dipunyai kecuali hanya untuk orang mukmin. Tawakal juga merupakan bagian dari hati yang akan membawa seseorang pada jalan kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Umar bin Khattab RA berkata, jika Ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

“Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki, dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang”. (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah)

Dari hadits di atas memberikan penjelasan jika hakekat tawakal yang digambarkan Rasulullah SAW, diumpamakam seperti seekor burung; dimana burung akan pergi pada pagi hari dengan perut kosong dan lapar, akan tetapi saat sore hari ia pulang dalam keadaan perut yang kenyang dan penuh.

Pada hakekatnya, Allah SWT sebenarnya sudah memberikan rizki sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Artinya, bisa saja yang putus mata pencaharian kita, akan tetapi yakinlah bahwa rezki kita sudah ditentukan oleh Allah SWT.

Hal ini juga serupa pada manusia, tawakal yang diambil dari kata wakala, yuwakilu, tawakalan; berarti menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan.

Orang yang bertawakal merupakan orang yang sudah menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan semua urusan yang dimilikinya pada Allah SWT.

Sementara dilihat dari segi istilah, tawakal diartikan oleh ulama dengan arti yang beragam diantaranya adalah:

1. Imam Ahmad bin Hambal

Tawakal adalah aktivitas hati, yakni perbuatan yang dikerjakan hati dan bukan diucapkan dengan lisan dan bukan juga dilakukan anggota badan. Selain itu, tawakal juga bukan sebuah keilmuan dan juga pengetahuan. Akan tetapi penyerahan semua kehidupan ini kepada Sifat dan Asma-Nya.

“…tawakal juga bukan sebuah keilmuan dan juga pengetahuan. Akan tetapi penyerahan semua kehidupan ini kepada Sifat dan Asma-Nya”.

 

2. Ibnu Qoyim al-Jauzi

Tawakal merupakan amalan dan juga ubudiyah [penghambaan] hati, yakni dengan cara menyandarkan semuanya hanya pada Allah SWT, tsiqah pada-Nya, berlindung pada-Nya dan ridha dengan semua yang terjadi pada dirinya yang didasari dengan keyakinan; jika Allah akan memberikan semua kecukupan untuk dirinya.

Ini dilakukan dengan tetap melakukan sebab – sebab dan juga usaha keras untuk bisa mendapatkannya.

 

3. Sebagian Ulama Salaf

Sebagian ulama yang lain berpendapat cukup bervariasi mengenai tawakal seperti sebuah ungkapan; jika Dinul Islam dilihat secara umum memiliki dua aspek yakni al-isi’anah [meminta pertolongan pada Allah] dan juga al-inabah [taubat pada Allah]. Sehingga tawakal menjadi setengah dari komponen Dinul Islam.

Sementara itu, tawakal merupakan refleksi dari al-isti’anah [Meminta pertolongan hanya pada Allah SWT] dan seseorang yang meminta pertolongan pada Allah akan menyandarkan dirinya hanya pada Allah sehingga pada hakekatnya ia sudah bertawakal pada Allah.

“….seseorang yang meminta pertolongan pada Allah akan menyandarkan dirinya hanya pada Allah sehingga pada hakekatnya ia sudah bertawakal pada Allah”.

 

4. Sahl bin Abdilah al-Tasattiri

Beliau mengungkapkan jika ilmu yang merupakan tujuan penghambaan pada Allah. Penghambaan ini adalah jalan menuju kewara’an [sifat menjauhkan diri dari maksiat]. Kewaraan adalah jalan menuju kezudhuan dan kezudhuan adalah jalan menuju tawakal.

Dengan demikian pengertian  tawakkal bermakna berserah diri, mewakilkan, dan menyerahkan diri kepada Tuhan setelah melaksanakan aktivitas, berbuat, bertindak, dan berperilaku.

Orang yang berserah diri kepada Tuhannya, disebut bertawakal, mutawakil. Bertawakal dengan menyerahkan diri kepada Tuhan artinya, menghimpun aktivitas, bekerja sekuat tenaga, beribadah secara ikhlas, dan berjuang mencapai sesuatu yang bermanfaat, untuk seterusnya menye­rahkan secara utuh atas hasil yang diperoleh, baik positif maupun negatif semuanya hak peroregatif  Allah SWT.

Orang-orang beriman, mereka yakin bahwa Allah tidak akan menyia- nyiakan ciptaan-Nya. Rabbana ma khalaqta hadza bathila (semua yang Engkau ciptakan tidak ada yang sia-sia).

Dan, Subhanaka fiqina ‘azabannar (Maha Suci Engkau ya Allah, Peliharalah kami dari azab neraka).

Semoga bermanfaat….

*****

Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin, hadapilah kehidupan ini dengan ‘Tawakal’, Karena Allah SWT mencintai orang yang sabar dan Allah bersamanya.

*) Oleh : Prof.DR.H.Salmadanis,MA

(Pusat Dakwah dan Studi Islam dan serta Majlis Ta’lim Sumbar)

Berbagi Yuk!

Related post