• August 9, 2020

Profesor Salmadanis: Hadapi Hidup Dengan Bersyukur (Menghadapi Covid 19 Dengan Sabar & Syukur)

 Profesor Salmadanis: Hadapi Hidup Dengan Bersyukur (Menghadapi Covid 19 Dengan Sabar & Syukur)

Prof. Salmadanis

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai  Pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim, di mana saja berada.  Kajian Islam selanjutnya adalah ‘Syukur’.

“Syukur dan kufur itu sangat tipis sekali”.

 

UNTUK itu, mari kita bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, kepada kita dalam berbagai situasi dan kondisi apapun; agar nafsu, akal dan hati ini tidak kemana-mana tapi ada bersama Allah SWT, dalam ketaatan.

 

SEPUTAR PENGERTIAN SYUKUR DAN HAKIKATNYA

(Bagian 1)

Banyak manusia stres dalam kegelisahan karena tidak mampu menikmati apa yang diberikan Allah SWT, kepadanya. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman  terhadap makna syukur atas nikmat Allah SWT.

Karena mestinya dia yakin bahwa apa yang diberikan Allah SWT, kepadanya adalah yang terbaik untuk dirinya, sehingga dia bersyukur.

Rasulullah SAW, bersabda;

“Bahwa orang yang paling bersyukur ialah manusia yang paling qanaah (menerima pemberian Allah) dalam kehidupannya, sedang manusia yang paling kufur adalah manusia yang rakus dan tamak. Karena orang yang rakus itu tak pernah menikmati yang sudah ia terima, tapi ia masih terus berangan-angan terhadap apa yang belum ia miliki”.

 

Imam Ali RA, mengatakan orang yang qanaah adalah orang yang kaya. Sedangkan yang rakus/ tama’ adalah sebenarnya orang fakir.

Kata “Syukur” dan yang seakar dengannya disebutkan didalam al- Qur’an sebanyak 75 kali. Menariknya, kata Al-Quran juga menyebutkan sejumlah yang sama (75 kali) untuk kata “Bala’” (Musibah).

Sebagian mufassir mengatakan; bahwa sepertinya hal ini mengindikasikan bahwa Allah SWT, ingin mengatakan bahwa adanya musibah itu karena kurangnya bersyukur kepada Allah SWT.

Sehingga tidak bersyukur itu identik dengan bala, ujian, fitnah, gonjang ganjing, kemiskinan, penderitaan, kesengsaraan. Mungkin Covid-19 ini datang ke dunia agaknya menuntut kita agar bersyukur.

“Mungkin Covid-19 ini datang ke dunia agaknya menuntut kita agar bersyukur”.

 

Syukur secara bahasa,

الثناء على المحسِن بما أَوْلاكَهُ من المعروف

“Syukur adalah pujian bagi orang yang memberikan kebaikan, atas kebaikannya tersebut”.

 

Atau, dalam bahasa Indonesia, bersyukur artinya berterima kasih.

Sedangkan istilah syukur dalam agama, adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Ibnul Qayyim:

الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة

“Syukur adalah menunjukkan adanya nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat. Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Sedangkan lawan dari syukur itu adalah kufur, yaitu enggan menyadari atau bahkan mengingkari bahwa nikmat yang ia dapatkan adalah dari Allah Ta’ala. Padahal pemberian Allah jauh lebih besar dibanding dengan kebaikan yang kita lakukan kepada-Nya”.

 

HAKIKAT SYUKUR

Ibnu Qayyim dalam kitabnya, Thariq al Hijratain, menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah mengakui nimat Sang Pemberi Kenikmatan dengan penuh ketundukan dan kecintaan kepada-Nya.

Dalam buku Rahasia Di Balik Usia 40 Tahun yang ditulis oleh Ahmad Annuri MA, disebutkan beberapa hakikat syukur, yaitu:

  1. Barangsiapa tidak menyadari adanya nikmat, maka dia tidak dianggap bersyukur.
  2. Barangsiapa yang menyadari adanya nikmat namun tidak mengenal siapa pemberinya, maka dia tidak dianggap bersyukur.
  3. Barangsiapa yang menyadari adanya nikmat dan mengetahui Sang Pemberi nikmat namun dia mengingkarinya, maka dia juga dianggap tidak bersyukur
  4. Barangsiapa yang meyadari adanya nikmat dan mengetahui Sang Pemberi nikmat serta menagkui kenikmatan tersebut dan tidak mengingkarinya namaun ia tunduk pada-Nya dan tidak pula mencintai-Nya, maka dia pun dianggap tidak bersyukur.
  5. Barangsiapa yang menyadari adanya nikmat dan mengetahui Sang Pemberi nikmat lalu mengakui kenikmatan tersebut dan tunduk serta cinta pada-Nya. Kemudian mempergunakan kenikmatan tersebut dalam hal-hal yang dicintai Allah, inilah orang-orang yan dianggap bersyukur.

Dengan demikian ternyata bahwa bersyukur itu berarti mengakui semua yang diberikan dan yang didatangkan oleh Allah SWT, kepada manusia; baik pemberian itu bersifat yang baik maupun bersifat yang buruk.

Untuk itu ketika menerima yang menyenangkan bersyukur, jika menerima yang tidak disukai bersabar. Jadi, syukur dan sabar dalam hidup ini adalah ibarat dua sisi mata uang.

*****

Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin, hadapilah kehidupan ini dengan bersyukur kepada nikmat Allah SWT, karena antara syukur dan kufur itu sangat tipis.

Oleh: Prof. DR. H. Salmadanis, MA

(Pimpinan Pusat Dakwah, Studi Islam dan Majlis Ta’lim Sumatera Barat)

Berbagi Yuk!

Related post