• August 7, 2020

Profesor Salmadanis: Kehadiran Covid-19 Menuntut Manusia Kembali Kepada Fitrahnya (Hakikat Allah SWT Menciptakan Manusia)

 Profesor Salmadanis: Kehadiran Covid-19 Menuntut Manusia Kembali Kepada Fitrahnya (Hakikat Allah SWT Menciptakan Manusia)

Prof. DR> H. Salmadanis,MA.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim di mana saja berada.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sesuai dengan fitrah, maka Kajian Islam selanjutnya adalah ‘Kembalilah Kepada Fitrah’.

Melaksanakan ajaran Islam secara terus menerus dengan baik dan sempurna, berarti manusia telah berada pada fitrahnya. Selanjutnya fitrah itu dibimbing dengan wahyu dan contoh yang di eksperesikan oleh nabi dan rasul serta ulama dalam kehidupan kepada manusia secara mutawatir (kontinius), hal itupun adalah fitrah.

Bagi mereka yang telah mendapatkan dan menemukan jalan kebenaran, inilah yang disebut oleh Allah kemudian dalam al-Qur’an dengan muslim, mukmin, mukhlasin, muhsinin dan muttaqin.

Sebaliknya, jika mereka tidak/belum menemukan jalan yang benar danurus inilah yang disebut dengan kafirin, fasikin, munafikin, mujrimin, dhalimin, kazibin dan fasidin, serta masih banyak nama lain yang senada dengan itu.

Konsekwensi bagi yang telah menemukan jalannya, maka Allah akan memberi imbalan kebaikan, yaitu surga yang beraneka ragam pula sesuai dengan tingkatan temuannya dan tentu sebaliknya yaitu neraka. Penciptaan alam ini termasuk penciptaan manusia adalah fitrah.

 

HAKIKAT ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA

Sebenarnya cukup banyak argumentasi yang dipergunakan oleh para ahli dari berbagai ilmu tentang hakikat penciptaan manusia. Dalam hal ini kita menyimpulkan sebagai berikut :

1. Sebagai Hamba Allah

Hakikat manusia sebagai seorang hamba, maka manusia wajib mengabdi kepada Allah SWT dengan cara menjalani segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Sebagai seorang hamba, manusia juga wajib menjalankan ibadah seperti shalat wajib, puasa ramadhan, zakat (baca syarat penerima zakat dan penerima zakat), haji (syarat wajib haji) dan melakukan ibadah lainnya dengan penuh keikhlasan dan segenap hati.

Hal itu, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut ini:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus”. (QS Al-Bayyinah: 5).

 

2. Sebagai al- Nas

Dalam al- Qur’an, manusia juga disebut dengan al- Nas. Kata al Nas dalam Alquran terdapat 224 kali, cenderung mengacu pada hakikat manusia dalam hubungannya dengan manusia lain atau dalam masyarakat.

Manusia sebagaimana disebutkan dalam ilmu pengetahuan, adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa keberadaan manusia lainnya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut :

“Hai sekalian manusia, bertaqwalaha kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istirinya, dan dari pada keduanya Alah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah dengan (mempergunakan) namanya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS: An Nisa: 1)

 

Kemudian,

“Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al Hujurat:13)

 

3. Sebagai khalifah Allah

Telah disebutkan dalam tujuan penciptaan manusia bahwa pada hakikatnya, manusia diciptakan oleh Allah SWt sebagai khlaifah atau pemimpin di muka bumi.

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (peguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”(QS Shad: 26).

Sebagai seorang khalifah maka masing-masing manusia akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di hari akhir.

 

4. Sebagai Bani Adam

Manusia disebut sebagai Bani Adam atau keturunan Adam, agar tidak terjadi kesalahpahaman bahwa manusia merupakan hasil evolusi kera sebagaimana yang disebutkan oleh Charles Darwin.

Islam memandang manusia sebagai bani Adam untuk menghormati nilai-nilai pengetahuan dan hubungannya dalam masyarakat. Dalam Alqur’an Allah SWT berfirman :

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, semoga mereka selalu ingat. Hai anak Adam janganlah kamu ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, …”. (QS Al araf: 26-27)

 

5. Sebagai al- Insan

Kata al-Insan terdapat dalam al-Qur’an 88 kali, yang makna merujuk pada kemampuannya dalam menguasai ilmu dan pengetahuan serta kemampuannya untuk berbicara dan melakukan hal lainnya. Sebagaimana disebutkan dalam al – Qur’an berikut ini:

“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat, kemudian rahmat itu kami cabut dari padanya, pastilah ia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih”. (QS: Al Hud:9)

 

6. Sebagai Makhluk Biologis (al- Basyar)

Manusia juga disebut sebagai makhluk biologis atau al – basyar. Bajwa, kata al-basyar, terdapat dalam al-Qur’an 38 kali, yang bermakna bahwa manusia memiliki raga atau fisik yang dapat melakukan aktifitas fisik, tumbuh, memerlukan makanan, berkembang biak dan lain sebagainya sebagaimana ciri-ciri makhluk hidup pada umumnya.

Sama seperti makhluk lainnya di bumi seperti hewan dan tumbuhan, hakikat manusia sebagai makhluk biologis dapat berakhir dan mengalami kematian, bedanya manusia memiliki akal dan pikiran serta perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan kelak di akhirat dihadapan Allah SWT.

*****

Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin; kembalilah kepada fitrah, karena manusia pada dasarnya adalah suci.

Oleh: Prof. DR. H. Salmadanis, MA/ Pimpinan Pusat Dakwah, Studi Islam dan Majlis Ta’lim Sumatera Barat

 

Berbagi Yuk!

Related post