• August 7, 2020

Profesor Salmadanis: Menghadapi Covid 19 Dengan Qana’ah (Penjelasan Hadist tentang Qana’ah)

 Profesor Salmadanis: Menghadapi Covid 19 Dengan Qana’ah (Penjelasan Hadist tentang Qana’ah)

Prof. Salmadanis

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim, dimana saja berada. Dalam beberapa tulisan kedepan kita akan memaparkan Kajian Islam, terkait dengan  ‘Qana’ah’.

“Hidup Ini Sebenarnya Itu Keitu Juga”.

Untuk itu mari kita ikuti dengan baik, agar nafsu, akal dan hati ini tidak kemana-mana tapi ada bersama Allah menerima semua ciptaan-Nya

“Hadapi Kehidupan Ini Dengan Qana’ah”

 

Q A N A ‘A H L A H

(Bagian 1)

Penjelasan Hadist Tentang Qana’ah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ.

Bersumber dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

 “Sungguh berbahagia orang yang telah memeluk Islam, diberi rizki cukup, dan dikaruniai oleh Allah sifat qana’ah (suka menerima apa yang telah Allah karuniakan kepadanya)”. (Muslim III: 102)

 

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ شَرِيكٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ.

 

Abu Bakar bin Abi Syaibah telah memberitahukan kepada kami, Abu Abdurrahman Al-Muqri telah memberitahukan kepada kami, dari Sa’id bin Abi Ayyub, Syurahbil ibnu Syuraik telah memberitahukan kepada saya, dari Abu Abdurrahman Al-Hubuliy, dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sungguh  beruntung orang yang telah masuk Islam dan diberikan rezeki yang cukup, serta Allah berikan padanya sikap qana’ah terhadap karunia-Nya.

 

Kata qani’a-qan’an-qana’atan berarti rela menerima yang sedikit. Merasa cukup (qana’ah) artinya suka menerima apa yang ada, maksudnya rela dengan pemberian yang telah dianugerahkan Allah SWT,  kepada dirinya, karena merasa memang itulah yang sudah menjadi pembagiannya.

Tetapi pengertian ini sama sekali tidak menghentikan usaha untuk menambah yang kurang, menyempurnakan sesuatu yang dirasakan belum memuaskan dan mengupayakan hari esok lebih baik dari hari ini.

Qana’ah adalah basis menghadapi hidup, menerbitkan kesunggguhan hidup, menimbulkan energi kerja untuk mencari rizki, jadi berikhtiar dan juga percaya akan taqdir yang diperoleh sebagai hasil.

Sifat qana’ah akan membawa orang tidak berlebih-lebihan dalam mengejar harta dunia yang mengakibatkan ia lalai akan kewajiban terhadap agama. Dan orang yang yang memiliki sifat qana’ah ini, pasti tidak mempunyai sifat tamak atau rakus terhadap pemberian Allah pada sesama makhluk, tidak dengki terhadap apa yang menjadi milik orang lain.

Perlu diketahui, bahwa manusia itu apabila sudah kejangkitan penyakit tamak pasti akan terseret kepada kelakuan yang buruk, budi pekerti yang tercela dan cenderung kepada perbuatan keji dan munkar. Oleh sebab itu, sifat buruk ini harus dihilangkan dengan sifat qana’ah.

Orang yang bersifat qana’ah berarti selalu menerima pemberian Allah SWT, dengan tangan terbuka dan senang hati, tidak menggerutu atau mengeluh meskipun pemberian itu tidak sesuai dengan jerih payah yang telah dilakukan.

Banyak yang salah menginterprestasikan arti qana’ah yang sebenarnya, sehingga menjadikan malas berusaha dan kurang giat berikhtiar mencari kemajuan dengan alasan qana’ah.

Sebenarnya yang dimaksud dengan qana’ah ialah suatu sifat terpendam dalam hati, yaitu:

  1. Sabar menerima ketentuan Tuhan.
  2. Ridha dengan segala pemberiaa-Nya, banyak atau sedikit.
  3. Tawakkal kepada-Nya.

Dibuktikan dengan perbuatan lahiriyyah, yaitu:

  1. Tidak mudah terpengaruh oleh tipu daya manusia.
  2. Memohon tambahan yang pantas kepada Allah Ta’ala.
  3. Berusaha dengan giat.
  4. Tetap ikhtiar dan usaha yang maksimal
  5. Mengambil pelajaran dari semua yang terjadi di alam ini
  6. Menjaga diri dan keluarga dari agar tidak lalai kepada Allah.

*****

Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin, hadapilah kehidupan ini dengan Qana’alah kepada Allah SWT. Karena kehidupan ini seperti ini terus-menerus.

Oleh: Prof. DR. H. Salmadanis, MA

(Pimpinan Pusat Dakwah, Studi Islam dan Majlis Ta’lim Sumatera Barat)

 

Berbagi Yuk!

Related post