• August 7, 2020

Profesor Salmadanis: Menghadapi Covid 19 Dengan Qana’ah (Pengertian & Syaratnya)

 Profesor Salmadanis: Menghadapi Covid 19 Dengan Qana’ah (Pengertian & Syaratnya)

Prof. Salmadanis

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim, dimana saja berada. Dalam beberapa tulisan kedepan kita akan memaparkan Kajian Islam, terkait dengan  ‘Qana’ah’.

“Hidup Ini Sebenarnya Itu Keitu Juga”.

Untuk itu mari kita ikuti dengan baik, agar nafsu, akal dan hati ini tidak kemana-mana tapi ada bersama Allah menerima semua ciptaan-Nya

 

“Hadapi Kehidupan Ini Dengan Qana’ah”

Q A N A ‘A H L A H

(Bagian 1)

 

Seputar Pengertian Dan Persyaratannya

Qona’ah secara etimologi adalah merasa cukup atau rela. Sedangkan menurut terminologi adah sikap rela menerima dan merasa cukup atas hasil yang diusahakan serta menjauhkan diri dari rasa tidak puas dan perasaan kurang.

Orang-orang hidup qana’ah tidak berarti fatalis (menyerah) dan menerima nasib begitu saja tanpa ikhtiar. Orang hidup Qana’ah bisa saja memiliki harta yang sangat banyak, namun tidak untuk memupuk kekayaan.

Dunia dan kekayaan yang dimilikinya, dibatasi oleh rambu-rambu Allah SWT.  Apapun yang dimilikinya, tidak pernah melalaikannya kepada sang pemberi kehidupan. Qana’ah itu dimaknai sebagai suatu sikap merasa cukup dan ridha atas karunia dan rizki yang diberikan Allah SWT.

Memiliki sifat qana’ah bukan berarti mengharuskan seseorang untuk menjadi pasrah dan apatis. Pasrah dan apatis bukanlah sifat yang baik. Sikap pasrah dan apatis adalah sikap putus asa terhadap rahmat Allah SWT.

Allah SWT melarang umat manusia untuk berputus asa terhadap rahmat Allah sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an: Surat Yusuf ayat 87.

Berbeda dengan sikap pasrah dan apatis, sikap  qana’ah memerlukan upaya dan ikhtiar maksimal

 

Ada lima persyaratan untuk bisa menjadi seorang yang qana’ah, yaitu :

1. Menerima dengan rela akan apa yang ada. Orang yang rela menerima segala bentuk karunia dan rizki yang diberikan Allah adalah orang yang benar-benar berbahagia. Kebahagiaan seseorang tidaklah diukur sejauh mana ia memiliki harta tetapi lebih pada sejauh mana ia merasa puas terhadap apa yang dimilikinya.

Orang yang memiliki orientasi hidup pada upaya pencarian harta adalah orang yang tidak pernah puas. Akibatnya, ia akan berusaha dengan berbagai cara untuk memperoleh harta tersebut walaupun dengan menghalalkan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dikhawatirkan, perilaku seperti ini akan melalaikannya dari mengingat Allah.

 

2. Memohon kepada Allah tambahan rizki yang pantas disertai dengan ikhtiar dan usaha. Berdoa saja tidak cukup juga berilmu saja tidak cukup, tapi diperlukan kerja keras untuk mendapatkan tambahan rizki dari Allah.

Berikhtiar adalah merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh manusia. Allah SWT, tidak akan merubah keadaan seseorang sebelum orang tersebut berusaha dan bekerja keras untuk merubahnya.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Quran surat  Al-Ra’d ayat 11 yang berbunyi dan artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib sesuatu kaum kecuali mereka sendiri yang merubahnya”.

Ikhtiar dan usaha inilah yang membedakan antara sikap qana’ah dengan sikap pasrah dan putus asa.

 

3. Menerima dengan sabar segala taqdir dan ketentuan Allah SWT. Menerima taqdir dan ketentuan Allah adalah bagian fundamental dari keimanan seseorang.

Orang yang sabar terhadap taqdir dan ketentuan Allah SWT adalah orang yang  menyadari bahwa Allah SWT memiliki kekuasaan meliputi langit dan bumi. Karena itu, cobaan apa pun yang datang dari Allah harus dihadapi dengan penuh kesabaran.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 177 yang berbunyi:

“…dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. 

 

4. Bertawakkal kepada Allah. Tawakkal berarti berserah diri kepada Allah SWT. Orang yang beriman sudah sepantasnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT.

Segala rintangan dan halangan yang dihadapi dalam kehidupan akan menjadi ringan jika semua itu diserahkan kepada Allah. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT, dalam Al-Qur’an surat Al-Thalaq ayat 3 yang berbunyi:

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya”.

 

5. Tidak tertipu oleh tipu daya dunia.

Orang yang qana’ah adalah orang yang meyakini bahwa gemerlap kehidupan dunia hanya bersifat sementara. Harta benda, kedudukan, keluarga, sahabat, dan segala urusan dunia akan berlalu jika seseorang telah dipanggil menghadap Allah. Karena itu, kecintaan terhadap dunia tidak boleh melalaikan seseorang dari tujuan utamanya dalam menggapai ridha Allah.

Hal ini sejalan dengan peringatan Allah SWT dalam Al-Qur’am Surat Al-Munafiqun ayat 9 yang berbunyi:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi”.

Orang yang memiliki sifat qana’ah adalah orang yang bahagia. Orang yang memiliki sifat qana’ah laksana orang yang memiliki harta yang banyak. Itulah makna tersirat dari hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:

“Qana’ah itu adalah harta yang tak akan hilang dan simpanan yang tidak akan lenyap”. (HR. Thabarani dari Jabir)

Dengan qana’ah, seseorang akan tetap mampu menjaga dirinya dari kebodohan, dari bala’, wabah, perbuatan keji dan mungkar dari covid-19, sehingga dirinya utuh.

Keutuhan fisik lahiriyahnya itu adalah untuk tetap mempertahankan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Hal itu akan terlihat ada tidaknya mereka patuh kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada pemimpin. Allahu a’lam bishawwab. Allahu ghaniyun wanahnu faqirun.

 

*****

Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin, hadapilah kehidupan ini dengan Qana’alah kepada Allah SWT. Karena kehidupan ini seperti ini terus-menerus.

Oleh: Prof. DR. H. Salmadanis, MA

(Pimpinan Pusat Dakwah, Studi Islam dan Majlis Ta’lim Sumatera Barat)

Berbagi Yuk!

Related post