• August 7, 2020

Profesor Salmadanis: Qana’ah Itu Sunatullah (Menghadapi Covid 19 Dengan Qana’ah)

 Profesor Salmadanis: Qana’ah Itu Sunatullah (Menghadapi Covid 19 Dengan Qana’ah)

Prof. Salmadanis

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Wahai Pencinta Kajian Islam dan Jamaah Majlis Ta’lim, dimana saja berada. Dalam beberapa tulisan kedepan kita akan memaparkan Kajian Islam, terkait dengan  ‘Qana’ah’.

“Hidup Ini Sebenarnya Itu Keitu Juga”.

Untuk itu mari kita ikuti dengan baik, agar nafsu, akal dan hati ini tidak kemana-mana tapi ada bersama Allah menerima semua ciptaan-Nya

 

“Hadapi Kehidupan Ini Dengan Qana’ah”

Q A N A ‘A H L A H

(Bagian 3)

Qana’ah Itu Sunatullah

Sebenarnya apa yang ada pada kita, yang kita miliki, yang kita terima setiap hari itu sudah menjadi ketentuan Allah. Kaya dan miskin, bahagia dan susah, sehat dan sakit, dan semua yang terjadi pada diri kita atau yang kita alami setiap hari merupakan ketentuan dari Allah SWT.

Allah SWT, telah memilihkan kepada kita apa yang pantas, yang cocok dan sesuai sehingga kita harus menerimanya dengan rasa puas dan percaya bahwa semuanya itu pasti ada hikmah dan faedah.

Menurut kebiasaan orang yang baru mau menerima dengan perasaan puas dan gembira; bila yang diterimanya itu sesuai dengan yang diangan-angankan, misalnya cepat kaya, lancar rizkinya, mendapat laba yang banyak dengan mudah, sehat wal afiat dan terhindar dari segala malapetaka.

Tetapi bila yang diterima itu kebalikannya, orang lalu menggerutu, hatinya sedih merasa tidak puas, bahkan kadang-kadang dalam hatinya terbetik suatu anggapan bahwa Allah SWT, itu tidak adil.

Lalu dalam keadaan seperti itu timbul emosinya ingin mengejar apa-apa yang belum tercapai hingga lupa segalanya. Lupa shalatnya, lupa anak dan istrinya, lupa sanak saudaranya, dan lupa kewajiban sosialnya dan lain-lain. Yang ada dalam benaknya hanya ingin mengejar apa yang belum tercapai yang selama ini menjadi angan-angannya.

Demikian itulah, kalau sifat qana’ah belum berakar dalam jiwa seseorang. Hatinya kosong lagi gersang yang pada akhirnya akan timbul rasa putus asa. Itulah sebabnya Rasulullah Saw menganggap bahwa sifat qana’ah adalah suatu kekayaan yang takkan hilang dan sebagai simpanan yang tak akan lenyap. Rasulullah bersabda:

الْقَنَاعَةُ مَالٌ لاَيَنْفَدُ وَكَنْزٌ لاَ يَغْنَى

“Qana’ah itu merupakan harta yang tak akan hilang dan sebagai simpanan yang tak akan lenyap”. (HR. Thabarani)

 

Sifat qana’ah ampuh untuk membentengi diri dari pengaruh dan godaan materi yang semakin menggiurkan, menggelitik setiap insan yang lemah iman.

Dengan sifat qana’ah pula, orang tidak akan ragu dan resah menghadapi kehidupan yang serba menyusahkan. Segala tantangan hidup dihadapinya dengan tahan dan penuh harapan tanpa menyesali apa yang telah menimpa dirinya dari berbagai cobaan hidup.

Kalau orang tidak memiliki sifat qana’ah, dirinya akan merasa tersiksa sendiri oleh angan-angannya. Diperolehnya uang Rp 1.000.000,- ingin memperoleh Rp 2.000.000,- mendapat uang RP 2.000.000,- ingin memperoleh Rp 3.000.000,- dan seterusnya hingga lelah badan dan pikiran dibuatnya.

Seandainya apa yang diinginkan itu tidak tercapai, padahal tenaga dan pikiran sudah dicurahkan, timbullah gerutunya tak henti-hentinya. Akhirnya dicari jalan bagaimana/ apa yang diinginkan itu bisa tercapai meskipun harus dengan jalan yang tidak halal.

Lebih parah lagi jika sampai terjadi suatu anggapan di dalam hatinya bahwa Allah tidak adil dalam memberikan karunia-Nya. Berprasangka buruk kepada Allah adalah larangan besar, yang tidak boleh dilakukan oleh siapa saja yang mengaku dirinya beriman kepada-Nya.

Allah SWT itu Maha bijaksana dan Maha adil. Bijaksana dalam semua tindakan-Nya dan adil di dalam semua ketetapan dan keputusan-Nya. Berarti apa yang menjadi keputusan dan kehendak-Nya mengandung hikmah.

Hanya saja untuk sementara kita belum mengetahui hikmah apa itu. Kita akan mengetahuinya apabila kita memiliki sifat qana’ah, menerima apa adanya dan merasa cukup apa yang telah diterimanya.

Nanti pada suatu saat akan terasa sendiri hikmah itu sehingga kita akan menundukkan kepala seraya membenarkan akan kebaikan sifat qana’ah bagi seseorang.

Adapun ciri orang yang bersifat qana’ah ialah tidak mudah terpengaruh oleh pasang surutnya keadaan dirinya. Waktu kaya dan sehat mengucap syukur. Waktu jatuh miskin atau tertimpa musibah tidak mengeluh. Semuanya diterimanya dengan senang hati dan penuh keyakinan kepada Allah.

Mufassir Al Qurthubi berkata:

“Sesungguhnya yang terpuji adalah kaya jiwa, karena ia menghindari ketamakan. Ia berhasil mencapai kemuliaan dan pujian lebih daripada ketika dia kaya harta, namun miskin hati karena sifat rakus. Miskin hati menjerumuskannya pada urusan-urusan rendah dan perbuatan hina karena rendahnya cita-cita, kebakhilan, dan kerakusannya. Banyak orang yang mengendalikannya (menguasainya). Akhinya, melemahlah rasa hormat manusia kepadanya”.

 

Kesimpulannya, orang yang kaya jiwa akan merasa qana’ah dengan pembagian Allah SWT, untuknya. Dia tidak mengharap kelebihan yang tidak diperlukan. Dia tidak terlalu berlebihan dalam mencari harta dan selalu ridha dengan pembagian yang telah ditetapkan Allah.

Manusia utama (al Insan al fadhil) adalah orang yang berbuat amal shaleh, menggunakan lisannya untuk berdzikir dan berbicara baik pada semua manusia, memanfaatkan anggota badannya untuk beribadah dan berderma, mengisi akalnya dengan pikiran yang bersumber dari iman yang murni kepada Allah, ridha dengan qadar baik maupun buruk.

Dengan itu semua, perasaannya akan terpengaruhi oleh keridhaan dan qana’ah. Jika semua ini telah dipenuhi oleh seorang mu’min, niscaya ia akan hidup dengan baik yang penuh dengan kemuliaan dan ketinggian derajat.

Manusia memerlukan bimbingan Islam untuk memainkan perannya dalam masyarakat. Karena, jika manusia menyerah kepada kecenderungan sifat rakus, maka ia akan membahayakan masyarakat, manusia dan semesta. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jangan kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan kekal”.  (Thaha: 131)

 

*****

Wahai sahabat-sahabat dan kaum muslimin, hadapilah kehidupan ini dengan Qana’alah kepada Allah SWT. Karena kehidupan ini seperti ini terus-menerus.

 

Oleh: Prof. DR. H. Salmadanis, MA

(Pimpinan Pusat Dakwah, Studi Islam dan Majlis Ta’lim Sumatera Barat)

Berbagi Yuk!

Related post