• August 7, 2020

Siapa Pinto Janir Sebenarnya? Ini Ulasan RAU

 Siapa Pinto Janir Sebenarnya? Ini Ulasan RAU

Dari kiri: Rico Adi Utama & Pinto Janir. (Editing Foto: RAU Adv)

PADANG – Sejak beberapa tahun yang lalu saya mengenal Kakanda Pinto Janir. Saya tahu beliau adalah seorang jurnalis kawakan(1). Beliau penulis handal dizamannya, malah sudah memulai titian karier jurnalistiknya sejak usia yang sangat belia. Itu yang saya tahu awalnya.

Namun, pandangan saya itu mulai berubah. Ketika menyaksikan jurnalis rasa seniman yang satu ini; berdialog dengan sajak – sajaknya di atas sebuah panggung.

Sempat pula, dalam sebuah event sastra, saya menuliskan sebuah pandangan dan pengantar event tentang dirinya, dengan menulis sebuah artikelnya di Blog Kompasiana, yang berjudul: Konser Puisi Akhir Tahun: Saatnya Penyair Sufistik ‘Pinto Janir’ VS FAM Indonesia (2).

Jika dibaca pada situs www.wikipedia.org, Pinto Janir adalah seorang seniman Indonesia asal Padang, Sumatra Barat. Selain sebagai penyair ia juga dikenal sebagai wartawan, penulis cerita pendek (cerpen) dan cerita bersambung (cerbung), serta penulis lagu dan sekaligus sebagai penyanyi.

Pinto dianggap sebagai penyair yang gila, karena pembacaan puisinya yang menyentak, liar, dan garang. Ia mengawinkan unsur puisi, musik dan teater dalam setiap penampilannya di atas panggung. (Wikipedia.Org)

 

Pada suatu waktu pula, ketika saya berdiskusi dengan Kakanda yang unik ini, dikediaman orang tuanya, Kota Padang, topik kami tidak melulu soal jurnalistik. Lebih banyak mengulas soal ilmu Tasawuf dan korelasi dzauq (3) dengan sajak – sajaknya.

Karena memang berkebetulan saya pernah kuliah dijurusan tersebut, walaupun sudah alih nama menjadi Jurusan Psikologi Islam, Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang.

Karya beliau yang saya ikuti beberapa tahun belakangan ini, memang lebih banyak cenderung pada lini seni suara dan syair. Sesekali beliau menulis biografi, propaganda politik dan berita perkembangan daerah (Sumatera Barat).

Walaupun di dunia jurnalistik tidak ada senior dan junioran, namun tetap penghormatan saya sangat tinggi saya kepada beliau. Karena beliau mampu menghargai yang lebih berusia kecil darinya dan termasuk menghargai karya – karya saya. Walaupun karya – karya jurnalistik dan sajak saya, tak lebih baik dari karya beliau.

Hingga saat ini pun, seorang Pinto Janir seakan tak ingin redup. Karya seni dan jurnalistiknya, terus menjejalar, walau tak seaktif dimasa mudanya.

Ia seakan berkelakar dengan setiap tulisannya, terutama di salah satu cerpen yang dimuat di www.ricoadiutama.com (4), belum lama ini. Begitu indah tulisannya, terkadang kata jemu pun tak hinggap sedikit pun untuk membaca dan melahap setiap kata – kata dan kalimat yang disusunnya.

Semoga Kakanda Pinto Janir, selalu dalam keadaan sehat wal-‘Afiat, terhindar dari dampak Covid-19 yang sedang mewabah serta selalu bersuara untuk banyak manfaat. Salam dari adik profesi-mu: RICO ADI UTAMA (RAU).

 

Daftar Pustaka:

  1. Arti Kawakan: sudah tua sekali; Suntingkiasan sudah berpengalaman; ia sudah kawakan dalam dunia pentas.
  2. Klik Link berikut : Pinto Janir & Sufistik
  3. Menurut al-Ghazali, adz-dzauq merupakan kehadiran hati (hudhur al-qalb) ketika salik berdzikir kepada Allah secara kontinyu (terus-menerus). Buah dari dzikir itu, kata al-Ghazali, menghasilkan cita rasa spiritual (dzauq) paling dalam di tengah kesadaran tertinggi.
  4. Klik Link berikut : Calon Gubernur Salah
Berbagi Yuk!