• August 7, 2020

Ter-Untuk Presiden Jokowi: Ditengah Covid-19, Wartawan Garda Terdepan atau ‘Kudapan’?

 Ter-Untuk Presiden Jokowi: Ditengah Covid-19, Wartawan Garda Terdepan atau ‘Kudapan’?

Presiden Jokowi (latar foto peragaan wartawan liputan saat perang)

“Ini bukan surat terbuka, tapi mungkin pembuka hati nan lupa”.

 

PADANG – Publik/ netizen/ masyarakat, ditengah melandanya Pandemi Covid-19/ Novel Coronavirus, sangat dimungkinkan mata mereka tertuju kepada Tim Medis, yang mereka anggap sebagai pahlawan dalam menangani orang – orang yang terdampak corona tersebut.

Kondisi dan persepsi itu tidak ada yang salah, memang Tim Medis saat ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang patut kita apresiasi.

Namun, sadarkah kita? Bahwa, ‘berita’ selama ini yang kita baca; sehingga mengetahui keadaan dalam negeri dan luar negeri, disaat berkecamuknya korban akibat dampak corona, siapa yang mencari dan membuatnya?

Berita – berita gembira dan menyedihkan, yang disajikan mulai dari media lokal hingga nasional dan golongan mainstream, semuanya menjadi referensi buat kita semua.

Seandainya tanpa media, bagaimanakah pengetahuan dan informasi kita soal kondisi diluar jangkauan kita hari ini? Atau, tahukah kita kondisi Kota Padang, disaat kita berada di Kota Jakarta?

Semuanya diolah dan disajikan oleh media, tetapi dicari dan dibuat oleh wartawan. Mereka, adalah teman- teman saya! Mereka bekerja professional, terkadang diluar perspektif kesejahteraan secara ekonomi; tetapi berita mereka, informasi mereka, harus tetap ada untuk disajikan demi memenuhi kebutuhan informasi buat kita semua.

Kenapa saya sebut diluar kesejahteraan? Fakta dilapangan, masih banyak wartawan yang bekerja professional, tapi tanpa gaji loch….? Mereka cari pendapatan sendiri, dengan cara sendiri.

Ada yang digaji, tetapi secukupnya saja. Kondisi itu tidak sedikit pula dialami oleh kawan – kawan saya itu. Boro  – boro memakai APD (Alat Pelindung Diri) demi menangkal Covid-19 dalam bertugas, untuk makan sehari – hari saja; atau untuk berbuka dan sahur bagi anak istrinya mereka harus mikir dulu.

Apalagi ditengah Pandemi ini, sumber pendapatan normal mereka tentu otomatis berkurang, karena mereka mungkin tidak lebih leluasa melakukan lobby iklan, pariwara/ advetorial kepada para konsumennya. Semua mata dan semua alasan, tertuju pada Covid -19.

Sementara informasi penting harus tersampaikan secepatnya, agar masyarakat mendapatkan informasi soal kondisi hari ini dan prediksi hari esok.

Mereka juga adalah pejuang garda terdepan, sama seperti Tim Medis. Namun, mereka sepi dari dari perhatian banyak pihak. Malah ada yang menjerit, tetapi tidak digubris, walaupun selama ini mereka menyampaikan jeritan orang – orang teraniaya agar mendapatkan keadilan?

Mereka ada pula yang harus menjaga keluarganya, dengan tetap berada dirumah. Sebab, jika mereka keluar rumah, potensi untuk bertemu banyak orang dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, sangatlah tinggi. Akhirnya, mereka pilih tetap diam dirumah dan menyampaikan berita sebisanya.

Mereka sepi dari pujian, walaupun mereka tidak mengharapkan itu. Mereka juga perlu makan, apakah terlalu sulit bagi Presiden Jokowi menyantuni semua wartawan di Indonesia lewat dana APBN1 dan peralihan, serta disalurkan oleh Pemerintah Daerah setempat, tanpa terkecuali?.

Apakah benar mereka garda terdepan atau hanya ‘kudapan’2 Covid-19 di tahun ini (2020)? Wallahu ‘Alam…

 

Keterangan:

  1. APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
  2. Kudapan menurut https://www.kamusbesar.com/kudapan: penganan yg dimakan di luar waktu makan; makanan kecil; (nomina).

Padang, 27 April 2020

Ttd,

RICO ADI UTAMA

Berbagi Yuk!

Related post